-->

Iklan

"Tak Belanje, Usah Dudok"

M. Rasyid Nur
Monday, June 10, 2019, June 10, 2019 WIB Last Updated 2019-06-10T23:36:34Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini
ANDA akan berlibur ke pantai? Di Pulau Karimun ada dua pantai yang selalu diserbu masyarakat, memang. Pantai Pongkar di Kecamatan Tebing dan Pantai Pelawan di Kecamatan Meral. Apalagi di hari libur bersempena Hari Raya ini, masyarakat --Pulau Karimun-- selalu memenuhi dua pantai ini. Saya dan keluarga (isteri) kemarin Ahad (9/6/19) kebetulan ikut berlibur ke salah satunya.

Saya agak sedih kali ini. Beberapa kali saya menikmati indahnya kedua pantai ini, kali ini yang agak berlebihan sikap dari penjual yang membuka kedai (warung) makanan di situ. Saya tahu, selama ini ada kebiasaan yang berlaku, walaupun ketentuan tertulisnya saya tidak tahu. Setiap pondok (semacam pandopo) yang ada di depan warung mereka, sepertinya merekalah yang menguasai. Mereka yang mengatur, siapa yang bisa duduk di sana.

Jika pengunjung pantai duduk-duduk saja di pondok-pondok yang dibangun Pemda Karimun tanpa berbelanja di warung mereka, sepertinya mereka keberatan. Terkadang secara langsung atau tak langsung mereka akan menyatakan keberatan jika pengunjung tidak berbelanja (entah sebutir kelapa muda) di warung mereka. Dan saya biasa mengalama itu selama ini.

Tapi kejadian Ahad kemarin itu, cukup membuat sedih pengunjung. Kebetulan saya dan isteri serta keluarga isteri sudah memakai salah satu pondok itu. Kami pun sudah berbelanja cukup banyak pada kesempatan itu. Tapi ternyata kami hanya diberi waktu sampai jam tertentu, dan harus sudah meninggalkan pondok itu. Tentu kami terkejut karena biasanya tak ada batasan waktu.

Kami tetap patuh pada arahan Ibu warung itu. Kami segera meninggalkan pondok itu meskipun beberapa orang di antara kami masih di laut, mandi. Kami tetap berkemas karena ternyata sudah ada yang akan duduk di tempat itu.

Satu kalimat yang tidak layak diucapkan yang saya dengar adalah, "Kalau tak balenje, tak usah dudok," katanya dengan suara agak tinggi. Saya terkejut, walaupun saya tahu itu bukan ditujukan ke kami. Kami sesungguhnya sudah mau pulang dan sudah sepakat akan meninggalkan tempat itu.

Bagi pengunjung yang mendapat kalimat itu, pastilah tidak nyaman mendengarnya. Dan itu menurut saya tidak bagus sebagai bagian pengelola pantai tempat berwisata itu. Seharusnya, orang warung tidak perlu bersikap begitu. Apalagi menyatakan kalimat begitu. Objek wisata daerah ini sebaiknya kita jaga dan kelola bersama. Bukankah masyarakat dari luar Karimun, bahkan dari lua Indonesia juga berkunjung ke sini?***
Komentar

Tampilkan

Terkini

NamaLabel

+